Oleh: Rasyidin, Tokoh Muda Nurussalam
Srwijayatoday.com | Beberapa hari terakhir, rencana pembangunan empat batalyon TNI di Aceh mulai ramai dibicarakan. Sebagian menyambutnya dengan harapan stabilitas. Tapi tak sedikit yang menyuarakan kegelisahan: “Aceh tidak butuh barak, Aceh butuh sekolah untuk anak-anak.”
Sebagai anak muda yang tumbuh di gampong, saya tidak menolak kehadiran negara. Saya percaya keamanan adalah hak semua warga, dan penjagaan teritorial adalah bagian dari tugas negara. Tapi saya juga percaya, keamanan tidak cukup hanya dengan menara pengawas dan seragam loreng. Keamanan sejati adalah ketika anak-anak bisa sekolah tanpa takut atap runtuh. Ketika pemuda bisa bercocok tanam atau bekerja tanpa harus meninggalkan kampungnya.
Saya menulis ini bukan untuk menentang negara. Tapi untuk mewakili suara yang sering kali tak sampai ke meja rapat: suara orang tua di kampung yang masih membajak sawah dengan harapan bisa menyekolahkan anaknya. Suara guru honorer yang sabar mengajar meski gajinya tak cukup beli beras. Dan suara pemuda yang lebih takut jadi pengangguran daripada diserbu musuh.
Kalau pembangunan batalyon memang harus dilakukan, silakan. Tapi jangan lupakan pembangunan manusia. Jangan biarkan sejarah kelam terulang hanya karena negara lupa melihat luka-luka kecil yang belum sembuh.
Sebagai tokoh muda di ujung timur Aceh, saya hanya ingin menyampaikan satu pesan sederhana:
Jangan hanya jaga tanah kami, tapi jagalah juga harapan kami.
Editor: Ayahdidien









