Sriwijayatoday.com, PALI, – Festival Candi Bumi Ayu 2025 kembali digelar meriah pada 21–24 November 2025 dengan menghadirkan beragam kegiatan budaya, edukasi, dan pertunjukan seni yang memukau. dihari ketiga festival candi Bumiayu dilaksanakan di Pentas Seni Kawasan Percandian Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), festival ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi wisata, sejarah, serta kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Minggu (23/11/2025).
Acara dibuka secara resmi oleh H. Andre Fajar Wijaya, S.Si., M.Si., Asisten I Setda Kabupaten PALI. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Festival Candi Bumi Ayu bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga sarana strategis untuk memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat.
Festival ini adalah wadah bagi masyarakat untuk menampilkan kekayaan budaya sekaligus memberikan edukasi kepada generasi muda tentang sejarah Candi Bumiayu.
“Rangkaian kegiatan yang digelar selama empat hari ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan, membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal, serta menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan sejarah yang dimiliki kawasan Percandian Bumi Ayu,” jelasnya.
Dilanjutkan pemaparan candi Bumiayu.
Sejarah panjang Percandian Bumiayu kembali dihidupkan melalui pemaparan ilmiah pada Festival Candi Bumiayu yang digelar di Pentas Seni Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Sumatera Selatan
Dalam kesempatan itu, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Sondang M. Siregar, S.S., M.Si, memaparkan perjalanan panjang penelitian situs Bumiayu, mulai dari penemuan pertama tahun 1864
ditemukan oleh seaorang konsultan dari Belandah yang bernama Ep Thomrink,
hingga prospek pengembangan wisata masa kini.
Jejak Penelitian Sejak 1864: Dari Arca Sungai Lematang hingga Ekskavasi Modern
Dr. Sondang memulai dengan menjelaskan fase awal penelitian: 1864 – E.P. Tombrink menemukan 26 arca di tepi Sungai Lematang. 1904 – A.J. Knapp menemukan reruntuhan candi setinggi 1,75 meter di kawasan yang sama.
1930 – Bosch mencatat temuan ornamen makhluk gana dalam Oudheidkundige Verslag. 1937 – Schnitger menemukan sebaran bangunan candi serta arca Siwa di Tanah Abang.
1938 – Puslitarkenas bersama Universitas Pennsylvania mengidentifikasi tiga reruntuhan candi. 1991 – Puslitarkenas menyusun peta situs Bumiayu. 1992 – Ditemukan sembilan gundukan yang dikategorikan sebagai Candi 1–9.
2002–2005 – Balar Palembang melakukan rangkaian ekskavasi Candi 10, tepian Sungai Lematang, tata ruang Candi 1 dan penelitian Candi 3. 2018–2019 – Ekskavasi lanjutan di Candi 4, 6, Danau Candi, sisi timur Candi 1, dan tepian Sungai Lematang.
2021–2025 – BRIN dan EFEO melakukan pengeboran, ekskavasi area Kute dan Danau Lebar. Rangkaian penelitian panjang tersebut menunjukkan bahwa Candi Bumiayu menyimpan warisan arkeologi besar yang belum sepenuhnya terungkap.
Kawasan Percandian Bumiayu: Harta Arkeologi di desa Bumi Ayu
Dr. Sondang memaparkan bahwa kawasan percandian berada di dataran rendah dengan kemiringan landai, terletak di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, PALI.
Batas wilayah kawasan:
Utara: Jalan Candi Bumiayu
Timur: Sungai Lematang
Selatan: Kabupaten Muara Enim
Barat: Tebat Slaeh & Jalan Candi Bumiayu
Di dalam kawasan ini terdapat dua situs utama: Situs Bumiayu 1 dan Situs Bumiayu 2, serta beberapa sel penelitian tambahan.
Situs Bumiayu 1: Candi Siwa Mahadewa dan Mandapa Bumiayu
Luas: 1,52 hektare
Dibatasi Batanghari Tebat Jambu di utara, Jalan Candi Bumiayu di selatan, Batanghari Piabung & SD 7 di timur, serta permukiman warga di barat.
Candi Siwa Mahadewa (Candi 1)
Denah persegi panjang
Ukuran 10 m x 16,89 m, tinggi 1,27 m
Pintu masuk menghadap timur
Mandapa Bumiayu (Candi 7)
Denah persegi panjang
Struktur 1–5 lapis bata
Ukuran 9 m x 10,60 m
Situs Bumiayu 2: Candi Dewi Bhairawi, Awalokiteswara, dan Candi 4 Makara
Luas: 8,18 hektare
Dikelilingi kebun karet, Tebat Lebung Candi, dan Jalan Candi Bumiayu.
Candi Awalokiteswara
Candi induk + 4 perwara
Denah bujur sangkar 9,52 m x 9,91 m
Tiga penampil (0,52 m; 2,70 m; 1,93 m)
Candi Dewi Bhairawi
Denah persegi delapan
Diameter 13,88 m
Masing-masing sisi memiliki penampil 6,78 m x 1,80 m
Candi 4 Makara
Denah persegi panjang
Ukuran 6 m x 15 m.
Sel 1 hingga Sel 5: Struktur Intak yang Tersembunyi di Bawah Permukiman
Dr. Sondang turut mengungkap adanya struktur yang belum terekskavasi sepenuhnya:
Sel 1 (Candi 10)
Luas 0,14 hektare
Perbatasan: lahan masyarakat dan Sungai Tebat Jambu
Sel 2
Struktur intak di bawah rumah Bu Rum
Luas 0,023 ha
Sel 3
Struktur intak di bawah rumah Pak Wardhana
Luas 0,08 ha
Sel 4
Struktur intak di bawah rumah Pak Rais
Luas 0,017 ha
Sel 5 (Candi 13)
Struktur bata intak di area TPU
Luas 0,007 ha
Potensi Besar Wisata Budaya Bumiayu
Di hadapan tamu undangan, pemerhati budaya, dan masyarakat, Dr. Sondang menegaskan bahwa Bumiayu memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan arkeologi yang sangat penting. Dengan penelitian yang terus berlanjut, Bumiayu berpeluang menjadi destinasi wisata budaya unggulan Sumatera Selatan, bahkan Indonesia. (Jiemie)















