RajaBackLink.com

Home / Ekonomi

Minggu, 14 September 2025 - 05:33 WIB

Stop Hunting di Forex: Mitos atau Fakta?

Redaksi - Penulis Berita

Dalam dunia trading forex, istilah stop hunting sering menjadi topik hangat. Banyak trader percaya bahwa harga sengaja digerakkan untuk menyentuh level stop-loss mereka, sehingga posisi ditutup dengan kerugian sebelum harga kembali ke arah analisis awal. Namun, benarkah stop hunting dilakukan secara sengaja, ataukah hanya bagian dari dinamika pasar yang wajar?

Apa Itu Stop Hunting?

Stop hunting adalah kondisi ketika pergerakan harga menembus level stop-loss trader lalu berbalik arah setelah itu. Situasi ini membuat banyak trader merasa “diburu” oleh pasar atau bahkan broker. Fenomena ini sering terlihat di area support dan resistance penting, di mana banyak order terkumpul.

Mitos vs Fakta Stop Hunting

Banyak trader pemula menganggap brokerlah yang “memburu” stop-loss mereka. Pada kenyataannya, pasar forex global sangat besar dengan likuiditas triliunan dolar per hari, sehingga hampir mustahil satu broker ritel kecil mampu menggerakkan harga secara signifikan. Pergerakan tersebut lebih sering terjadi karena konsentrasi order di level tertentu yang dimanfaatkan oleh pelaku pasar besar (big players) seperti bank investasi dan institusi keuangan.

Baca Juga: Stop Hunting di Forex: Mitos atau Fakta?

Mengapa Stop Hunting Terjadi?

Stop hunting biasanya terjadi karena banyak trader menempatkan stop-loss di level psikologis yang sama, misalnya di bawah support atau di atas resistance. Ketika harga bergerak ke area tersebut, order otomatis tereksekusi sehingga memicu lonjakan likuiditas. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh institusi besar untuk masuk posisi dengan harga lebih baik.

Bagaimana Trader Bisa Menghadapinya?

Alih-alih menganggap stop hunting sebagai “konspirasi,” trader sebaiknya menyesuaikan strategi. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

Tidak menempatkan stop-loss di level yang terlalu jelas atau terlalu dekat dengan area support/resistance.

Menggunakan manajemen risiko yang tepat agar tidak panik saat volatilitas meningkat.

Menggabungkan analisis teknikal dengan fundamental untuk melihat gambaran pasar lebih luas.

Pentingnya Broker yang Legal dan Transparan

Banyak mitos tentang stop hunting berhubungan dengan kecurigaan terhadap broker. Karena itu, memilih broker legal dan teregulasi sangat penting untuk menghindari praktik manipulasi. Broker yang transparan hanya menyalurkan order trader ke pasar tanpa intervensi harga.

Mulai Trading di Platform Aman: Register di KVB Sekarang

Dengan KVB Indonesia sebagai broker teregulasi, trader dapat menikmati eksekusi order cepat, spread kompetitif, serta sistem yang transparan. Ini membantu trader fokus pada strategi tanpa khawatir soal manipulasi harga.

Stop hunting sering kali lebih merupakan dinamika pasar akibat pergerakan big players daripada manipulasi langsung oleh broker ritel. Dengan manajemen risiko yang tepat dan memilih broker yang legal, trader bisa menghadapi fenomena ini dengan lebih percaya diri.

Produk Terkait: Broker Trading – KVB Indonesia

Berita ini 7 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Mendukung Program 3 Juta Rumah, Al Qilaa dan KAI Berkolaborasi Membangun Hunian Vertikal di Lahan KAI

Ekonomi

Penyebab Scabies Pada Kucing dan Solusinya

Ekonomi

Manajemen Bisnis yang Lebih Mudah dengan Lemhero: Absensi, KPI, dan Payroll

Ekonomi

KAI Daop 1 Jakarta Hadirkan Promo “Merdeka” Diskon 20% Tiket Kereta Api Sambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI

Ekonomi

JSC Positive Technologies Perkuat Kolaborasi Teknologi Digital Indonesia Dalam Penutupan Positive Hack Camp 2025

Ekonomi

Ingin Cuan dari Game Kripto? Coba PLPA TapTap Hero di Telegram!

Ekonomi

Perdagangan Bebas Tarif Indonesia AS Membuka Jalan bagi Investor di Bali

Ekonomi

Kepedulian Sosial Holding Perkebunan Nusantara, PT KPBN Salurkan Bantuan CSR untuk Warga Belawan