Banda Aceh – Sriwijayatoday.com | Presiden Mahasiswa Universitas Iskandar Muda, Rifqi Maulana memperingatkan Pemerintah Pusat agar tidak terus mengabaikan tuntutan rakyat Aceh terkait penetapan status Bencana Nasional. Jika negara terus menunda dan berlindung di balik alasan birokrasi, maka mahasiswa dan rakyat Aceh tidak akan tinggal diam.
Rifqi menyampaikan bahwa kondisi lapangan menunjukkan kerusakan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi. Infrastruktur publik rusak, aktivitas pendidikan terhenti, mata pencaharian masyarakat terganggu, dan ribuan warga masih berada dalam situasi pengungsian yang tidak pasti.
“Jika negara terus abai, kami pastikan mahasiswa akan turun ke jalan. Ini bukan ancaman kosong, ini peringatan politik,” tegas Rifqi.
Presiden Mahasiswa UNIDA menilai keterlambatan penetapan status Bencana Nasional sebagai bentuk kelalaian negara yang berdampak langsung pada lambatnya pemulihan, tersendatnya anggaran, dan berlarutnya penderitaan rakyat. Dalam situasi seperti ini, diam berarti berkhianat pada nurani kemanusiaan.
Kami menegaskan, aksi massa akan digelar secara terbuka, terorganisir, dan berkelanjutan apabila Pemerintah Pusat tidak segera mengambil keputusan strategis.
“Negara jangan menguji kesabaran mahasiswa dan rakyat Aceh. Ketika ruang kebijakan ditutup, maka jalanan akan menjadi ruang perjuangan,” ujar Rifqi.
Rakyat Aceh tidak menuntut lebih, selain keadilan dan tanggung jawab negara. Namun jika tuntutan ini terus diabaikan, maka gelombang perlawanan sipil akan menjadi konsekuensi politik yang tidak bisa dihindari.
“Ini bukan soal siapa melawan siapa, ini soal negara yang harus memilih hadir bersama rakyat, atau berhadapan dengan kemarahan publik,” tutup Rifqi Maulana.(*)
Editor: Ayahdidien









