RajaBackLink.com

Home / Advetorial

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 08:01 WIB

Menulis dari Hening, Berjuang Lewat Kata

Saiful Amri - Penulis Berita

SRIWIJAYATODAY.COM | Dalam keheningan malam, ketika kebanyakan orang telah terlelap, Endang Kusmadi justru menulis. Di tengah cahaya redup layar ponselnya, ia merangkai kata yang lahir dari hati — menulis bukan untuk dikenal, melainkan untuk memberi makna. Sosok jurnalis asal Aceh ini percaya: menulis dengan hati, berpikir tajam, dan memegang prinsip verifikasi adalah cara terbaik menjaga nurani jurnalisme.

Menulis di Antara Hening

Suasana malam menjadi teman setia bagi Endang Kusmadi. Saat semua suara berhenti, hanya terdengar detak jam dan cahaya gadget yang sesekali menyala. Dalam posisi berbaring, pikirannya bekerja paling jernih.

“Dalam hening, pikiran bekerja paling jujur,” katanya lirih suatu malam.

Bagi Endang, menulis di tengah keheningan bukan sekadar rutinitas, tapi proses menemukan makna. Ia percaya, gagasan terbaik lahir dari ketulusan yang tenang, bukan dari keramaian yang bising.

Anak dari Masa Bergolak

Lahir di Kuta Makmur pada tahun 1986, Endang menyaksikan sendiri masa-masa Aceh yang bergejolak. Ia sempat diberi nama Muhammad Adam Nadi, namun sang ayah — Usman Umar, mantan anggota Mobrig (kini dikenal sebagai Brimob) — menggantinya menjadi Endang Kusmadi, demi alasan keamanan di tengah situasi politik yang tak menentu.

Nama itu kini menjadi identitas yang penuh makna. Bukan sekadar nama, melainkan penanda perjalanan seorang anak Aceh yang tumbuh di tengah pusaran sejarah dan menemukan suaranya melalui tulisan.

Bahasa: Jendela Dunia

Sejak duduk di kelas dua SMA, Endang telah akrab dengan bahasa Inggris. Ia belajar secara otodidak — menerjemahkan lagu, membaca majalah asing, dan menulis catatan harian dalam bahasa kedua.

Namun, situasi konflik Aceh kala itu memaksanya menunda kuliah. Harapannya sempat redup, hingga akhirnya perdamaian tiba.

Kesempatan baru datang ketika ia bekerja di International Labour Organization (ILO), lembaga internasional yang membuka wawasannya terhadap dunia. Dari situ, semangatnya untuk kembali belajar tumbuh kuat.

Ia pun mendaftar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe, yang kini telah menjadi UIN Sultanah Rasyidah Lhokseumawe. Di kampus itulah ia menemukan dua hal penting dalam hidupnya: bahasa dan jurnalistik.

Dari UKM Al-Kalam ke Dunia Pers

Kampus mempertemukannya dengan dunia baru: dunia jurnalisme. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Kalam, satu-satunya corong pers mahasiswa di STAIN saat itu, Endang mulai menulis berita, mengedit naskah, dan belajar etika jurnalistik.

Ia sering bergabung dengan mahasiswa dari kampus lain di Aceh untuk berdiskusi dan mengikuti pelatihan jurnalistik. Dari sana, pemahaman tentang pentingnya check and recheck tumbuh kuat dalam dirinya.

“Menulis bukan hanya soal apa yang ingin kita katakan,” ujarnya,

“tetapi tentang apa yang harus kita suarakan.”

Tiga Prinsip yang Tak Pernah Pudar

Kini, di tengah arus media yang kian cepat, Endang tetap berpegang pada tiga prinsip penulisan:

Menulis dengan hati, tajam, dan verifikasi.

Menulis dengan hati — karena hanya kejujuran yang bisa menembus perasaan pembaca.

Tajam — karena analisis yang dangkal hanya melahirkan kebingungan.

Dan verifikasi — karena kebenaran adalah napas utama dari setiap karya jurnalistik.

Ia pernah menolak menulis berita tanpa konfirmasi meski ditekan berbagai pihak. “Tulisan yang lahir dari hati akan sampai ke hati,” katanya. Kalimat itu menjadi prinsip hidupnya, bukan sekadar slogan redaksi.

Menulis Sebagai Perjuangan

Bagi Endang Kusmadi, menulis bukan hanya pekerjaan, tetapi perjuangan. Ia percaya, tulisan memiliki kekuatan yang setara dengan doa.

“Dengan tulisan, saya bisa memperjuangkan nasib mereka yang tertindas,” ucapnya.

Ia meyakini, setiap kata yang lahir dari keikhlasan akan menemukan takdirnya — mengubah, menggerakkan, atau bahkan menyembuhkan.

Ketenangan yang Teguh

Meski dikenal tenang dan terkadang terkesan cuek, di balik sosok itu tersimpan konsistensi dan kesetiaan pada nilai kebenaran. Ia tidak mudah berubah arah hanya karena tekanan atau arus kepentingan.

Baginya, pengaruh bukan tentang kekuasaan, tetapi tentang kemampuan menyebarkan nilai-nilai baik. Itulah sebabnya setiap tulisannya selalu berpihak pada kebenaran, bukan kepentingan.

Doa dalam Bentuk Kata

Kini, di setiap malam yang sunyi, Endang Kusmadi masih menulis. Ia menulis untuk menjaga nalar publik, menulis untuk menegakkan etika, dan menulis untuk berdoa melalui kata.

“Selama masih ada yang membaca dengan hati,” katanya tersenyum,

“kata-kata tidak akan pernah kehilangan maknanya.”

Bagi Endang, menulis adalah bentuk pengabdian — cara paling tulus untuk menjaga agar kebenaran tidak pernah kehilangan suara.(*)

Editor: Ayahdidien

Berita ini 10 kali dibaca

Share :

Baca Juga

ADV

H.Suciazhi SE, Hadiri Buka Puasa Bersama : Pengurus DPC PPBNI Satria Banten Se- Kota Serang

ADV

Kasus Sudah Damai Secara Kekeluargaan : Di Laporkan Kembali, Begini Kronologisnya.

ADV

H. Yandri Susanto Selenggarakan Sosialisasi BPJS : Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Ponpes Bai Mahdi Sholeh Ma’mun

ADV

IWO Indonesia Membuka Pelatihan Jurnalistik Untuk Umum Secara Gratis

ADV

Musisi Banten Gelar Pentas Amal Peduli Kekeringan

ADV

kantor kementrian Hukum Dan HAM Provinsi Banten Menggelar Sosialisasi Layanan Hukum Umum Dan HAM (Teman Mager)

ADV

Dandim 062/Serang Ikuti Deklarasi Pemilu Damai Bersama KASAD Secara Virtual

ADV

Dandim 0602/Serang Survei Lokasi Lahan Kosong  Untuk Program Ketahanan Pangan