RajaBackLink.com

Home / Opini

Minggu, 2 Oktober 2022 - 07:45 WIB

NADIEM SEMAKIN KONTROVERSIAL, ADA APA ?

Bagas - Penulis Berita

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim/Net

by M Rizal Fadillah*

Kekacauan teranyar dari Mendikbud Nadiem Makarim adalah sambutan Hari Kesaktian Pancasila yang disampaikan pada tanggal 30 September padahal tanggal itu adalah saat terjadinya pembunuhan para Jenderal atau peristiwa G 30 S PKI. Semua tahu Hari Kesaktian Pancasila adalah tanggal 1 Oktober. Aduh, benar-benar berbahaya ini orang.

Setelah disebut menghianati guru dan dosen melalui RUU Sisdiknas, mengkhianati umat beragama dalam road map visi Pendidikan 2035, menghianati birokrasi dengan 400 personal shadow organization, serta menghianati mahasiswa dan kampus dengan Peraturan Menteri No. 30 tahun 2021, kini ia melakukan penghianatan sejarah dengan menyambut Hari Kesaktian Pancasila tanggal 30 September 2022. Nadiem ini memang penghianat.

Pidato sambutannya pun dinilai berbahaya dan berisi konten selundupan yang berbau Komunis atau terkesan ada misi simpati PKI. Tiga catatan untuk ini.

Pertama, dalam empat alinea secara berulang dinarasikan kalimat “gotong royong” yang pemahaman umum adalah kerjasama atau bahu membahu. Akan tetapi kita belum lupa bahwa “gotong royong” juga adalah satu-satunya sila dalam Ekasila. PKI di dalam Sidang Konstituante secara tegas mendukung dan memperjuangkan “gotong royong” sebagai ideologi negara.

Kedua, tidak memaknai Pancasila sebagaimana rumusan 18 Agustus 1945. Sebaliknya justru mengaitkan dengan Pancasila 1 Juni 1945 “Kemendikbudristek telah berkomitmen untuk terus menghadirkan transformasi yang selalu sejalan dengan pesan Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila. Yakni di atas kelima dasar Pancasila kita mendirikan negara Indonesia; kekal dan abadi”. Pancasila yang mana ?

Ketiga, tidak ada kendali agama atau moral untuk belajar dan berkarya “Saktinya Pancasila terletak pada komitmen bersama untuk mewujudkan kemerdekaan yang sebenar-benarnya merdeka bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk belajar dan berkarya”. Kesaktian Pancasila tidak berhubungan dengan “kemerdekaan yang sebenar-benarnya merdeka”. PKI dahulu yang menginginkan kebebasan tanpa batas.

Pidato sambutan 30 September Nadiem dinilai manipulatif dan tendensius, tidak bijak dan tidak sedikitpun menyinggung sejarah kebiadaban PKI. Bias dalam memaknai Pancasila dan ragu untuk berpegang pada Pancasila 18 Agustus 1945. Bicara Pancasila tetapi anti Pancasila.

Akhirnya, salam segala agama yang tertulis dalam pidato sambutan sepertinya dilembagakan dengan tanpa dasar hukum. Sudahlah, daripada salam campur-campur agama sehingga berbau sinkretisme sebaiknya ucapkan saja “selamat pagi”, “selamat siang” atau “selamat malam” titik.

Bagi muslim mengucapkan salam dengan mencampur-campur segala agama hukumnya adalah haram !

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 2 Oktober 2022

Berita ini 106 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

TALAK TIGA JOKOWI

Opini

Peta Jalan PemakzulanĀ 

Nasional

Hak Angket, Magnet Gerakan Rakyat

Opini

Bukan Sekedar Melawan Lupa, Makar Ideologi Itu Bernama “Gerakan 1 Juni 1945”

Headline

SURAT EDARAN YAQUT

Opini

Anti Oligarki dan Ganyang Komunis

Opini

JANGAN MEMPERALAT MAHASISWA DI JAWA BARAT

Opini

COLDPLAY “LGBT” KOK KAGUM TOKOH SYI’AH