RajaBackLink.com

Home / Aceh / Aceh Timur / Aceh Timur Peristiwa / Daerah / Hukum & Kriminal / Peristiwa / sosial

Jumat, 2 Februari 2024 - 11:38 WIB

Peringati 25 Tahun Tragedi Pembantaian  di Arakundo : SPKP HAM & KPA – Aceh Timur Adakan Doa Bersama Dan Santuni Anak Yatim.

Saiful Amri - Penulis Berita

Sriwijayatoday.com| ACEH TIMUR –  Lembaga Swadaya Masyarakat LSM Solidaritas persaudaraan Korban pelanggan HAM – Aceh ( SPKP HAM ACEH TIMUR) atau Association Of Human Rights Victim Abuse akan memperingati (Haul) 25 Tahun tragedi kemanusiaan yang terjadi di Krueng Ara Mundo dan Simpang Kuala Idi Cut, Aceh Timur.

Pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) berat di simpang Kuala Idi Cut serta pembuangan jenazah korban ke Krueng Arakundo pada 03 Februari 1999 yang lalu merupakan salah satu peristiwa berdarah dalam pembantaian warga sipil yang terjadi di Aceh.

Melansir id.m.wikipedia.org Operasi Militer Indonesia di Aceh 1990-1998 atau juga disebut Operasi Jaring Merah adalah operasi kontra-pemberontakan yang diluncurkan pada awal 1990-an hingga 22 Agustus 1998 melawan gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka  (GAM) di Aceh. Selama periode tersebut, Aceh dinyatakan sebagai “Daerah Operasi Militer” (DOM), di mana Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam skala besar dan sistematis terhadap pejuang GAM maupun rakyat sipil Aceh.[2] Operasi ini ditandai sebagai perang paling kotor di Indonesia yang melibatkan eksekusi sewenang -wenang, penculikan, penyiksaan dan penghilangan, dan pembakaran desa.[3] Amnesty International menyebut diluncurkannya operasi militer ini sebagai “shock therapy” bagi GAM.[4]

Menurut sejumlah saksi mata, peristiwa naas yang terjadi di Krueng Ara Kundo ini menewaskan tujuh orang dan melukai ratusan orang lainnya. Dimana para pelaku disinyalir dilakukan oleh oknum aparat  penegak hukum yang sampai saat ini belum ditangkap dan diadili.

Peristiwa berdarah itu diduga dipicu karena masyarakat masyarakat Desa Matang Ulim, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur dikarenakan sehari sebelumnya menyiapkan pentas dakwah Gerakan Aceh Merdeka. Isu dakwah perjuangan GAM itupun terendus oleh pihak aparat keamanan kala itu.

Meski pihak aparat sempat melarang masyarakat agar tidak menggelar dakwah kala itu, bahkan dikabarkan aparat sempat mengobrak-abrik lokasi tersebut, namun tak menyurutkan semangat GAM dan pengunjung untuk hadir di lokasi dakwah tepatnya di desa Matang Ulim Kecamatan Darul Aman (Idi Cut) Kabupaten Aceh Timur.

Setelah dakwah selesai sekira pukul 00.50 WIB, kemudian masyarakat sekitar pulang dengan berbagai jenis kendaraan menelusuri jalan desa setempat untuk keluar menuju jalan nasional Banda Aceh-Medan. Di tengah perjalanan pulang setiba tiba di Simpang Kuala Idi Cut, masyarakat kemudian di berondong dengan senjata yang disinyalir dilakukan oleh oknum militer.

Baca Juga :  Peringati HUT Bhayangkara Ke 76, Kepolisian Resor Lahat Gelar Kegiatan Sosial Donor Darah

“Korban berjatuhan dengan darah yang bersimbah. Kami lari kocar-kacir setelah melihat hujan peluru. Ada kawan saya yang jatuh tertembak, ada juga diangkat dibawa dinaikkan ke truk aparat,” kata salah satu warga Idi Cut yang tidak ingin namanya dicatut itu mengaku sebagai saksi mata yang menyaksikan pembantaian tersebut.

Lebih lanjut lelaki yang saat ini sudah berusia 60 tahun itu menambahkan, disaat kejadian naas itu berlangsung, juga sempat menyebabkan kemacetan dahsyat di jalan raya, sehingga semua kendaraan dari jalur lintas Sumatera Banda Aceh – Medan terhenti.

“Keesokan paginya kami mendengar kabar ada mayat mengapung di Sungai Arakundo. Kami yakin bahwa mayat itu adalah masyarakat yang tadi malam pulang dari acara dakwah,” katanya

Tidak hanya saksi mata, peristiwa yang tidak terlupakan di benak masyarakat Aceh khususnya Aceh Timur, hingga detik ini kasus pelanggaran terbesar itu masih bungkam seiring ditelan masa.

“Semoga perdamaian Aceh terus bersemi di tanah rencong dan peristiwa yang sama tak terulang kembali,” kata saksi mata korban yang masih hidup.

Lebih lanjut dirinya juga menceritakan, kala itu masyarakat yang merasa keluarganya hilang ketika itu sangat terpukul, mereka terus berusaha mencari keberadaannya. Sungai Arakundo dipadati masyarakat ketika itu, dengan alat tradisional mayat-mayat diangkat dari sungai.

“Tanpa bantuan dari pihak mana pun, masyarakat membantu dengan alat seadanya mencari mayat. Sebagian mereka ditemukan dalam karung. Mirisnya lagi jasad mereka diikat dengan kawat dan ditambah batu”, tuturnya lagi.

Meskipun telah berlalu, namun tragedi berdarah pada 1999 itu belum terlupakan. Tugu perdamaian yang dibangun pada 2012 itu menjadi tanda sejarah tragedi yang memilukan.

“Semoga tragedi kelam pelanggan HAM berat tersebut tidak terulang kembali di bumi Aceh tercinta ini”, harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, menjelang hari peringatan tragedi Idi cut, Razali atau dikenal dengan sebutan sandi Nyakli Raja Maop, acara yang dilakukan oleh lembaga SPKP HAM Aceh dan Gerakan Pejuang Keadilan (GPK) sekaligus dibantu oleh masyarakat setempat, khususnya warga Matang Pineung dan sekitarnya sekaligus dibantu juga oleh para mantan (GAM / KPA) Idi Cut.

Nyakli Maop yang merupakan salah satu  anggota Komisi Peralihan Aceh (KPA) dan juga ketua GPK sangat mengapresiasi kepada seluruh unsur masyarakat yang ikut andil dalam upaya memperingati Haul tragedi kemanusiaan itu.

Baca Juga :  Ormas PST Demo di Kejati Sumsel Terkait Dugaan KKN di 5 OPD Dinas Pemkot Prabumulih

Selaku mantan Kombatan GAM IDI cut’  dirinya menyatakan siap bekerja keras dengan rekan rekan KPA untuk suksesnya acara ini ungkap Nyakli Raja Maop pada media Ini.

Hal senada juga disampaikan oleh sekretaris penyelenggara, Tgk. Tarmizi yang juga sebagai sekretaris SPKP HAM Aceh Timur.

“Kegiatan ini murni doa’ bersama dan santunan untuk anak yatim-piatu serta korban tragedi kemanusiaan tersebut. Kita buat acara untuk mengenang masa lalu yang sangat kelam. Acara Ini sakral, maka Kami pun tidak membiarkan ada unsur politik, apalagi suasana panas menjelang pemilu Legislatif dan Pilpres”, ujarnya.

Tarmizi juga menghimbau para undangan dilarang keras memakai indentitas / atribut yang berbau politik, seperto baju dan kendaraan saat menghadiri acara, selain itu  dilarang juga bernuansakan atribut politik, seperti memakai baju parpol, dan mobil yang sudah di modifikasi gambar para caleg.

“Kalau itu terjadi maka tamu tersebut tidak di izinkan memasuki area hajatan tersebut”, ungkap Tgk. Tarmizi sekretaris panitia yang di dampingi oleh ketua serta penanggung jawab acara, Jufri Zain.

Tambahnya lagi, papan bunga sebagai ungkapan duka cita serta ucapan selamat memperingati haul tragedi kemanusiaan di idi cut juga tidak boleh ada unsur politik.

“Misalnya dari si Polan Caleg nomor xxx partai anu. Itu tidak boleh dan kita suruh turunkan. Yang di akomodir adalah. Misalnya dari Polan. Kepala SMK (misalnya) itu di bolehkan. Pokoknya jangan ada kata kata Caleg lah gitu”, papar ketua PWDPI Aceh Timur tersebut.

Tarmizi juga berharap acara ini sukses dan menjadi edukasi untuk Kita semuanya agar tragedi kemanusiaan Ini tidak pernah terulang kembali di bumi Aceh tercinta ini, seraya mengaminkannya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua panitia Jufri Zain juga berharap para undangan tertib dan saling menghargai keputusan panitia dan selain itu  bendahara pelaksana Riski, S.H., Juga mengimbau agar kita saling berdonasi dengan memberikan sumbangan seikhlasnya Agar momentum doa bersama serta santunan untuk anak yatim-piatu dan ahli waris korban tragedi kemanusiaan tersebut dapat terlaksana dengan lancar dan sukses. ungkap pengacara Muda ini. [Razali | Editor : Redaksi]

Berita ini 75 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Aceh

Medco E&P Malaka Raih Penghargaan Kecelakaan Nihil 2023 dari Menaker

Daerah

Kapolda Jambi Bersama Gubernur Jambi Terima Bantuan 24 Ton Oksigen dari Tanoto Foundation Dirumah Dinas Gubernur

Aceh

Pemkab Harap Kelompok Tani di Aceh Timur Semakin Maju

Aceh

Perpanjangan SKCK di Polres Aceh Timur Sekarang Bisa Delivery, Ini Syaratnya.!

Daerah

Soal Dugaan Pemalsuan Ijazah Oleh Bupati Lima Puluh Kota Perlu Kejelasan Hukum

Aceh

Zulfadli Oyong Anggota DPRK Aceh Timur Kunjungi Remaja korban Kebakaran

Berita Sumatera

Angin Di sertai Hujan Lebat, Robohkan Bangunan Pasar Gunung Katun, Way Kanan

Aceh

Sekretaris DPC Gerindra Aceh Timur , Aidul Azhar S.Kom.i Deklarasi Prabowo-Gibran Bersama Emak-Emak sekecamatan madat.