Sriwijayatoday.com, PALI – Dinas Pertanian Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) bersama dokter hewan menggelar penyuluhan pertanian terpadu dan peternakan ayam ras petelur yang berlangsung di Kantor Desa Curup, Kecamatan Tanah Abang, Selasa (30/12/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Pemerintah Kecamatan Tanah Abang, Kepala Desa Curup beserta perangkat desa, BPD, Polsek Tanah Abang, pemangku adat, PKK, Linmas, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta kelompok tani desa Curup.
Kepala Desa Curup, M. Tisar, dalam sambutannya mengajak seluruh perangkat desa dan masyarakat untuk mengikuti penyuluhan dengan serius. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan program Dana Desa Tahun Anggaran 2025 yang telah lama direncanakan.
“Sudah lama kami ingin melaksanakan kegiatan ini, dan Alhamdulillah hari ini bisa terlaksana. Mari kita cermati penyuluhan pertanian dan peternakan ini agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Desa Curup,” ujar Tisar.
Sementara itu, Camat Tanah Abang yang berhalangan hadir diwakili oleh Darwinsyah, staf Kecamatan Tanah Abang. Ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran camat karena adanya agenda yang tidak dapat diwakilkan.
“Pemerintah Kecamatan Tanah Abang sangat mendukung kegiatan penyuluhan ini. Harapannya, masyarakat Desa Curup mampu mengelola pertanian dan peternakan, khususnya beternak ayam, dengan baik dan berkelanjutan,” ungkap Darwinsyah.
Dalam sesi materi, Ahmad Jalaludin dari Dinas Pertanian Kabupaten PALI memaparkan manajemen peternakan ayam ras petelur, mulai dari pemilihan bibit hingga pemasaran hasil produksi.
Ia menjelaskan bahwa kualitas telur sangat ditentukan oleh kualitas ayam sejak masa pertumbuhan. Oleh karena itu, pemilihan DOC atau pullet harus berasal dari bibit bersertifikat bebas penyakit seperti Salmonella dan Avian Influenza, serta memiliki keseragaman bobot agar produksi telur optimal.
Selain itu, vaksinasi wajib seperti ND, AI, IB, dan Gumboro harus diberikan tepat waktu sebelum ayam memasuki masa bertelur.
Dalam aspek pakan, Ahmad menyebutkan bahwa biaya pakan mencapai 70–80 persen dari total biaya produksi, sehingga harus diformulasikan sesuai fase pertumbuhan, mulai dari starter, grower, hingga layer dengan kandungan kalsium tinggi untuk memperkuat cangkang telur.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kondisi lingkungan kandang, seperti suhu ideal 18–25 derajat Celsius, pencahayaan selama 16 jam per hari, serta sirkulasi udara yang baik guna mencegah stres pada ayam.
Pertanian Terpadu dan Konsep Zero Waste
Penyuluhan ini juga mengangkat konsep pertanian terpadu (zero waste), di mana limbah peternakan dimanfaatkan kembali untuk sektor lain. Kotoran ayam dapat diolah menjadi pupuk organik, bahan baku biogas, hingga dimanfaatkan melalui integrasi maggot BSF sebagai sumber protein alternatif bagi ternak lain.
Selain itu, peternak juga diimbau untuk melakukan pencatatan harian (recording) produksi telur, jumlah pakan, dan tingkat kematian ayam, serta melakukan afkir terhadap ayam yang sudah tidak produktif agar tidak merugikan.
“Biosekuriti harus diterapkan secara ketat, batasi akses orang asing ke kandang dan sediakan tempat sanitasi kaki untuk mencegah penularan penyakit,” tegas Ahmad.
Dokter Hewan Tekankan Kebersihan dan Pencegahan Penyakit.
Materi dilanjutkan oleh Dokter Hewan Puskeswan Wilayah II Kabupaten PALI, Yudi Gunawan, yang mengulas sejarah ayam ras petelur di Indonesia serta pentingnya sanitasi kandang.
Ia menjelaskan bahwa sebelum digunakan, kandang harus melalui proses pembersihan fisik dan desinfeksi menyeluruh, kemudian dikosongkan selama 10–14 hari untuk memutus siklus penyakit.
“Jika ternak menunjukkan gejala sakit, segera hubungi dokter hewan dan gunakan obat sesuai dosis. Jangan ragu meminta bantuan tenaga medis agar tidak terjadi kerugian lebih besar,” pesannya.
Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan masyarakat Desa Curup mampu mengembangkan pertanian dan peternakan secara mandiri, modern, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa. (Nde)









